Sebuah nasehat dalam kisah dahulu yang patut diambil sebagai pelajaran.
Didalam mengambil pelajaran ataupun petunjuk bisa kita ambil dari berbagai sumber dan dari yang terjadi dialam sekitar. Dan didalam pepatah Minang sering kita dengar sebuah kalimat yang berbunyi sebagai berikut,"alam takambang jadi guru". Jadi intinya kita belajar tidak melulu melalui sekolah atau melalui seorang guru. Belajarlah dari semua apapun yang bermanfaat dan berguna.
Janganlah dipandang ilmu itu dari siapa kita mendengarnya, akan tetapi lihatlah bobot ataupun nilai dari sebuah ilmu tersebut. Meskipun ilmu tersebut berasal dari seorang anak yang masih kecil. Atau kalau zaman dahulu disebutkan,"ambillah ilmu itu walaupun berasal dari seorang budak yang hitam legam".
Disini penulis teringat akan sebuah kisah dizaman yang jauh dari masa kedatangan Rasulullah saw. Kisah itu tentang kisah sebuah bangsa keturunan Bani Israil.
Pada masa itu ada sebuah perkampungan yang dekat dengan pantai. Menurut riwayat nama kampung itu ada yang menyatakan sebagai kampung Aylah dan ada yang menyebut sebagai Madyan.
Dahulu Allah SWT ingin menguji keimanan dari orang kampung tersebut,yang mana pada hari Sabtu Allah SWT memerintahkan mereka menjadikan hari Sabtu sebagai hari untuk beribadah kepada Allah SWT. Dan Allah SWT melarang mereka untuk menangkap ikan pada hari Sabtu tersebut.
Dan sebagai ujian atas mereka, Allah SWT mendatangkan ikan yang banyak pada hari Sabtu tersebut. Ikan ikan itu bahkan sengaja datang dan bermain main ditepi pantai. Keadaan itu sangat menggoda bagi para penduduk kampung tersebut, karena ikan ikan tersebut sangat mudah untuk ditangkap.
Sehingga suatu saat mereka merencanakan suatu muslihat agar tidak terkena larangan perintah dari Allah SWT. Mereka bersepakat untuk memasang jala pada hari Jumat, sehingga ikan ikan itu akan terperangkap didalam jalanya. Dan pada hari Sabtu mereka akan membiarkan ikan ikan tersebut terperangkap di dalam jala mereka. Pada hari Minggu barulah mereka mengambil ikan ikan yang terperangkap tersebut.
Kejadian itu berlangsung hingga beberapa lama. Pada masa itu penduduk kampung tersebut terbagi menjadi tiga golongan.
Golongan yang pertama adalah golongan yang merencanakan dan melakukan muslihat terhadap perintah Allah SWT. Atau golongan yang membangkang terhadap perintah dari Allah SWT.
Golongan yang kedua adalah golongan yang melarang para penduduk untuk melakukan pembangkangan terhadap perintah dari Allah SWT. Mereka melakukan amar ma'ruf nahi mungkar yaitu nya memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang dari kemungkaran.
Sedangkan golongan yang ketiga adalah golongan yang melarang para penduduk untuk melarang orang orang yang melakukan tindakan kemungkaran terhadap perintah dari Allah SWT . Mereka mengatakan biarkan saja mereka berbuat dosa. Kita tidak perlu melarang mereka.
Sehingga tibalah masa bagi Allah SWT untuk menimpakan azab bagi mereka yang melakukan pembangkangan dan tipu muslihat. Dan juga termasuk golongan yang ketiga yang melarang orang orang yang taat perintah Allah SWT untuk melarang orang orang yang membangkang tersebut dari berbuat dosa dan tipu muslihat terhadap perintah dari Allah SWT.
Jadi golongan yang pertama dan golongan yang ketiga sama sama mendapatkan azab dari Allah SWT. Mereka dikutuk menjadi kera.
Menurut riwayat mereka semua akhirnya punah tidak memiliki keturunan. Dan sebagian riwayat mengatakan bahwa mereka berubah kembali menjadi manusia dengan seizin Allah SWT.
Pelajaran yang terdapat dalam kisah diatas, salah satunya adalah bahwa orang yang membiarkan manusia berbuat dosa, akan sama sama mendapatkan azab dari Allah SWT, sebagaimana azab yang ditimpakan kepada orang yang berbuat dosa tersebut.
Jadi setiap orang yang beriman wajib mengajak manusia untuk taat perintah dari Allah SWT dan melarang dari berbuat dosa dan berbuat kerusakan ataupun kemungkaran dibumi Allah ini.
Semoga kita semua bisa menjadi hamba Allah yang patuh dan taat pada aturan Allah SWT. Aamiin.

Comments
Post a Comment